BREAKING

Roni: Akademisi Muda, Calon Doktor Dari Lombok Timur


Muda, berprestasi, dan sarat karya. Kira-kira seperti itulah Beemagz menggambarkan tokoh muda inspiratif kali ini. Muhammad Sya’Roni Rofii, pemuda 27 tahun asal desa Kabar, kecamatan Sakra, Lombok Timur, tengah menempuh pendidikan doktor di Marmara University, Turki, dengan konsentrasi di bidang Political Science and International Relations. Get inspired!

Foto: dok. pribadi

Lombok-Jogja-Turki, Semangat Merantau
Selepas menamatkan pendidikan Aliyah (setingkat SMA) di Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri Mataram yang sekarang dilebur menjadi MAN 2 Mataram, Roni, memutuskan untuk merantau ke Jogjakarta, dan ngampus di IAIN Sunan Kalijaga jurusan Hukum Syariah. Sibuk dengan perkuliahan, nggak membuat Roni meninggalkan dunia organisasi. Namanya malang melintang di dunia organisasi kampus, baik intra kampus, seperti pers mahasiswa, pengelola jurnal, maupun gerakan ekstra kampus seperti HMI dan PERMAHI. Semangat dan ketekunannya, membawa ia lulus dengan predikat cumlaude dari IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Selepas S1, Roni melanjutkan studi master di Universitas Gajah Mada dengan konsentrasi International Relations. Sibuk kuliah, ia juga nyambi sebagai peneliti di Institute of International Studies UGM. Roni juga menjadi translator alias penerjemah buku-buku berbahasa asing ke bahasa Indonesia. Tercatat dua buku sudah ia terjemahkan, yaitu “After Terror: Promoting Dialog Among Civilizations” karya Akbar Ahmed dan Brian Forst, dan “The Myth of Development" karya Oswaldo De Rivero”. Tulisan karya Roni juga dimuat di berbagai jurnal dan surat kabar nasional. Ribet nggak sih? Enjoy nggak sih? Roni menjawab simpel, “Biarkan hidup mengalir. Belajarlah untuk belajar efektif, dan pastikan manajemen waktu, misalnya dalam 24 jam pastikan ada 2 jam untuk sekedar membaca, sisanya bisa untuk urusan rutinitas dan hobi,” katanya berbagi tips. Wow! Sounds cool, right?

Ditanya soal semangat merantau, Roni bercerita kalau merantau adalah bagian dari cara untuk menempa dan meningkatkan kualitas diri. “Masing-masing tempat memiliki pengaruh tersendiri, Lombok seperti rumah pertama, kemudian Jogjakarta yang diisi pelajar dari berbagai daerah di Indonesia seperti rumah kedua yang menempa semangat keindonesiaan, dan kini menemukan rumah ketiga di Istanbul, kota tua yang mempertemukan berbagai ras umat manusia dari berbagai Negara,” ceritanya.

Bangga Jadi Duta Indonesia
Roni yang juga penulis buku tentang politik Turki “Bulan Sabit di Benua Biru”, sebelumnya tak pernah menyangka bahwa lewat beasiswa Turkiye Burslari, ia akhirnya benar-benar menjejak di tanah Turki. Pilihannya untuk menekuni dunia politik dan hubungan internasional bukan tanpa alasan. Bagi penyuka klub sepak bola Chelsea ini, HI adalah ilmu spesial. “Dengan mempelajarinya, seakan-akan kita menggenggam dunia di tangan. Tanpa politik internasional yang baik, Indonesia akan terus-terusan jadi bahan mainan negara maju.” Saat ini kajian yang ditekuninya meliputi isu-isu Uni Eropa, Balkan studies, Turkish studies, dan juga Timur Tengah.

Sering hadir sebagai duta Indonesia di berbagai forum dan konferensi internasional, penyuka warna biru ini mengaku bangga bisa mewakili Indonesia. “Pengalaman paling berkesan adalah saat mewakili Indonesia di forum MOIC di Kota Kazan, Rusia pada musim panas 2012. Saya sangat terobsesi untuk berkunjung ke salah satu negara adikuasa itu. “My dream finally came true,” kenangnya. Berada di negara lain secara otomatis menjadikan si pelaku sebagai duta bangsa. “Keberadaan kami, para pelajar Indonesia, di forum-forum internasional, merepresentasikan jutaan rakyat Indonesia lainnya. Cerita-cerita tentang Indonesia setidaknya menggugah rasa penasaran mereka tentang Indonesia," ceritanya.

Indonesia Vs Turkey
Hampir 2 tahun berada di Turki, Banyak hal yang bisa dipelajari Roni. Salah satunya adalah fakta bahwa Turki minim kekayaan alam, namun sektor pariwisatanya tetap bisa berkembang pesat. “Konsentrasi Turki ada di sektor jasa. Tourism spots benar-benar dikelola secara maksimal, jadi jangan heran jika turis tidak pernah sepi berkunjung ke kota ini. Maskapai Turkish Airlines terbang kemana-mana dan mendapat penghargaan sebagai maskapai terbaik di Eropa tahun 2012. Indonesia masih bisa jauh lebih baik dari itu, tentunya bila dikelola dengan baik,” ujarnya.

Pulang Kampung
Bila semua berjalan sesuai rencana, Roni akan menyelesaikan studi doktornya di tahun 2015. Banyak ide dan rencana tengah disusunnya saat ini. Ketika ditanya soal prioritas setelah nanti pulang kampung, ia menjawab dengan sederhana, “prioritas utama ketika pulang kampung ya kembali mengajar. Saya senang bisa berbagi ilmu,” tandasnya. Mengutip quote favoritnya dari Rumi, “wherever you stand, be the soul of that place”, Roni selalu ingin memberikan yang terbaik, dimanapun dia berada. We proud of you, Bro! (el)

More about Roni:
Baca online tulisannya di blog kompasiana: www.kompasiana.com/ziyarofii
Facebook: M Sya’roni Rofii
Twitter: ronirofii

About ""

Beemagz adalah majalah lokal muda Lombok. Kreatif, edukatif, entertaining, local taste, dan pastinya youngster bangett!! Enjoy our online version!

Post a Comment

 
Copyright © 2013 Beemagz Youngster Magazine | Majalah Remaja
Design by FBTemplates | BTT