BREAKING

Kami Muda, Kami Memilih


Menjadi Warga Negara Demokrasi

kaum muda Indonesia (foto: ppp.or.id)
Tahun 2014 merupakan tahun pertama untuk saya, sebagai siswa SMA, untuk berkontribusi terhadap masa depan negara tercinta saya, Indonesia. Tahun 2012 lalu, saya berkesempatan menjadi bagian dari negara adidaya Amerika Serikat untuk menyaksikan pemilihan umum yang dilaksanakan empat tahun sekali. Suasana mendekati pemilu dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat di tengah keberadaan Amerika Serikat yang saat itu dilanda berbagai isu internal maupun eksternal. Para calon pemegang kekuasaan ditantang untuk menghadirkan solusi-solusi terbaik dari yang terbaik untuk menghentikan atau mencegah masalah baru yang menghantui kehidupan warga negara disana.

Sebagai pencetus ideologi demokrasi di abad 18, Amerika Serikat memasukkan pengetahuan politik dasar ke dalam kurikulum pendidikan di beberapa negara bagian. Di New York State, dimana saya ditempatkan, pengetahuan tentang calon presiden dan pemangku kekuasaan lainnya diberikan kepada mereka yang telah memilik hak suara di kelas. Disana, institusi pendidikan harus bersikap netral dalam proses edukasi politik, karena masih memegang status sebagai pendidik dan tugas siswa adalah mencerna sebagai modal mereka untuk menentukan siapa yang akan dipilih. Para kandidat politik akan dipelajari berdasarkan track record (rekam jejak) mereka sebelum mencalonkan diri, lalu para pelajar juga mempelajari jenis partai politik berdasarkan kepercayaan dianut oleh partai tersebut. Jumlah partai politik utama hanya ada dua; Demokrat dan Republik. Edukasi politik tersebut tidak lain bertujuan untuk menghindari kampanye politik kotor dan sedini mungkin mengajak kaum muda untuk melek pemimpin. Pemimpin yang berkualitas, tentunya.
Kapasitas saya sebagai siswa SMA tentu bukan apa-apa dalam memberikan pandangan, namun hukum menjamin hak saya menyampaikan pendapat secara bebas dengan tertib. Harapan saya, semoga tulisan ini mampu memberikan referensi pada siapa saja yang membacanya.

Terlepas dari pengalaman saya sebagai seorang siswa pertukaran di negeri Paman Sam, di Indonesia, refleksi nilai demokrasi dapat dilihat dengan melihat ke perjalanan Indonesia sejak zaman kemerdekaan. Indonesia memiliki reputasi yang cukup baik dalam menjalankan sistem demokrasi di mata internasional. Contohnya saja, kita pernah memiliki wanita sebagai orang nomor satu di negeri ini. Sebuah prestasi yang luar biasa, menurut saya, bahwa di Indonesia, tidak hanya lelaki yang bisa jadi pemimpin, perempuan juga punya hak yang sama. Gender jadi urusan belakangan, ketika kualitas berbicara. Demokrasi, seperti yang kita ketahui, mengedepankan ideologi bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, tidak seperti ideologi Monarki dan Komunisme yang dalam praktiknya, membatasi kekuasaan rakyat dalam penentuan pemimpinnya. Jika demokrasi dijalankan secara ideal , jika tiap orang menggunakan hak pilih dengan benar dan kualitas kandidat sebagai pemimpin diutamakan sebelum popularitas atau dana kampanye yang dikeluarkan.

Kampanye partai politik yang seyogyanya bertujuan untuk menyampaikan visi dan misi mereka kepada seluruh lapisan masyarakat sudah kehilangan ruhnya menjadi sebuah kendaraan politik yang berorientasi pada materi yang tentu saja memiliki kemampuan merubah paradigma dan persepsi tiap individu terhadap independensi hak suaranya, sehingga harapan besar akan pesta demokrasi Indonesia berangsur-angsur memudar dari wajah asli demokrasi yang seharusnya diwujudkan bangsa ini. Jangan sampai kualitas disembunyikan oleh kemampuan partai politik menyelenggarakan kampanye termewah, atau lebih parahnya lagi, membeli hak suara dengan memberikan bantuan langsung berupa materi kepada masyarakat untuk mendapatkan perhatian masyarakat mendekati pemilu. Intelektual seorang kandidat tentunya berpengaruh terhadap kemungkinannya terpilih nanti, mengapa? Intelektual dapat menjadi tolak ukur para pemilih karena menunjukan kemampuan memecahkan masalah melalui metode pemikiran yang didapatkan dari edukasi yang telah ditempuh.

Rabu, 9 April 2014, tiap individu yang memegang satu hak pilih dapat menggunakan hak tersebut di TPS terdekat untuk sebuah harapan optimis memiliki representatif terbaik di meja pemerintahan. Jangan mau menjadi masyarakat yang buta karena tidak mengetahui dengan baik calon legislatif dan bisu karena tidak menyuarakan hak pilih saat diberikan kesempatan dan menyesal di kemudian hari. Hingga saat ini, krisis politik masih terjadi di berbagai belahan dunia demi mendapatkan sesuatu yang kita dapatkan dengan cuma-cuma di Indonesia, yaitu hak pilih.

Masih ada waktu untuk menentukan pilihan, sebelum masing-masing kita menuju bilik suara. Ada kesempatan untuk kita, pemilih pemula, kaum muda, untuk tidak sekedar berdiam diri atau ikut-ikutan saat menentukan calon pemimpin kita. Maka, jangan sampai kehilangan kepekaan dan kepedulian kita terhadap nasib bangsa ini, karena tiap SATU SUARAMU DAPAT MENGUBAH BANGSA INI menjadi lebih baik. Let’s make our voices count! 

By : Lalu Muhammad Carlos

About ""

Beemagz adalah majalah lokal muda Lombok. Kreatif, edukatif, entertaining, local taste, dan pastinya youngster bangett!! Enjoy our online version!

Post a Comment

 
Copyright © 2013 Beemagz Youngster Magazine | Majalah Remaja
Design by FBTemplates | BTT