BREAKING

Pacoa Benhur


Bagaimana seorang Lew Wallace, jenderal pasukan union dalam perang saudara Amerika tahun 1846, mampu menyelinap hingga 15.000 kilometer ke pelosok Bima? Penasaran? Datanglah ke Kelurahan Sambinae, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, dan temukan jawabannya!

Pacoa Benhur, tradisi unik masyarakat Bima 

Lew Wallace mungkin hanya menulis, tak lebih, tentang seorang pangeran Jerusalem bernama Judah Ben Hur. Kisah dengan latar belakang kekuasaan Romawi yang sarat konflik dan deru kereta-kereta perang masa itu.

Karya klasik Ben Hur kemudian difilmkan pada 1959, diperankan dengan apik oleh Charlton Heston yang memenangkan 11 academy award. Sejak itulah kereta-kereta perang Romawi, dalam pita audio-visual, menderu-deru hingga ke Indonesia. Sampai ke Bima.

Kereta perang Romawi itu yang sepertinya sangat melekat pada masyarakat Bima (Dou Mbojo), yang sejak ratusan tahun, mencintai kuda. Istilah “dokar” tak pernah lagi terdengar. Dou Mbojo menyebut kereta kuda dengan sebutan: Benhur.

Kalau berkesempatan ke Kota Bima, entah mengunjungi keluarga, atau sekedar berlibur, cobalah ke kelurahan Sambinae. Biasanya, di hari Kamis, para kusir benhur dari berbagai pelosok Kota Bima dan Kabupaten Bima berkumpul di sebuah arena pacuan. Mereka akan saling adu ketangkasan di atas gerobak Benhur, memburu waktu tercepat tiba di garis finish.

Benhur biasanya digunakan untuk mengangkut hasil panen dari ladang, atau barang jualan ke pasar. Tapi, kali ini ceritanya berbeda. Tetap dengan gerobak tariknya, satu per satu kuda Benhur dipacu sekencang-kencangnya oleh sang kusir menuju finish. Di sisi lapangan, ada orang yang dipercaya sebagai pencatat waktu. Kuda Benhur yang memiliki catatan waktu tercepat menjadi pemenangnya.

Tidak ada panitia khusus. Jika terjedai perdebatan, biasanya kusir yang paling dituakan akan maju sebagai penengah. “Setiap tradisi punya kearifan. Dasarnya adalah saling percaya dan saling menghormati,” kata Drs Hafid, Ketua Masyarakat Sejarawan NTB.

Sebenarnya tidak ada sebutan khas lokal untuk kegiatan mingguan para kusir tersebut. Namun, masyarakat biasa menyebutnya Pacoa Benhur, atau balapan Benhur.

Boleh jadi kegiatan adu Benhur ini merupakan turunan dari tradisi Pacoa Jara atau pacuan kuda, yang sudah diwarisi sejak ribuan tahun di Dana Mbojo. Selain sebagai tradisi, Pacoa Jara menjadi salah satu jenis olahraga paling populer bagi masyarakat Mbojo.

Pacoa Benhur jauh lebih sederhana dibandingkan Pacoa Jara. Kuda-kuda yang akan dipertandingkan dalam Pacoa benhur tidak perlu diukur tingginya atau dihitung jumlah giginya. Tidak pula ada hadiah untuk kuda yang menjadi pemenang. Bagi masyarakat Mbojo, kuda merupakan simbol status sosial mereka. Jika kudanya menang dalam arena pacuan, maka status sosial sang pemilik kuda ikut terangkat.

“Kami tidak mencari uang di sini. Kami senang kalau kuda kami menang. Bahkan, masyarakat desa kami juga ikut bangga. Nama kami dan desa kami jadi disegani,” kata Addin, salah seorang kusir.

Tertarik untuk menyaksikan Pacoa Benhur lebih dekat? :D

Kontributor: Bob
Foto: Jompambojo-net

About ""

Beemagz adalah majalah lokal muda Lombok. Kreatif, edukatif, entertaining, local taste, dan pastinya youngster bangett!! Enjoy our online version!

Post a Comment

 
Copyright © 2013 Beemagz Youngster Magazine | Majalah Remaja
Design by FBTemplates | BTT