BREAKING

CINTAKU JATUH KETIBAN DONAT


Satu langkah lagi menuju bisnis cemerlangku. Dan sebuah donat spesial yang terakhir telah masuk dalam box kueku. Jam sudah menunjukkan pukul 3.30. Artinya masih ada setengah jam lagi untuk bisa sampai di kampus. Aku bergegas memasukkan box itu kedalam tas. Sret. Sret. Sret. Pas. Masuk. Beberapa menit yang lalu aku sudah menyelesaikan mandi siangku yang berakhir pada penggunaan kemeja biru kotak-kotak berlengan panjang beserta long pants coklat dipenuhi dua tingkat sakunya yang berjajar kebawah. Rambut hitam sebahuku kututupi dengan sebuah jilbab biru muda polos pemberian ibu.

Setelah memasangkan tas ke punggung tegapku, aku segera keluar. Wanita paruh baya itu sudah menanti dengan senyuman megahnya yang mengalahkan posisi kemegahan candi-candi Indonesia atau kemegahan gedung putih atau juga keindahan menara Paris yang ketika SD kupanggil apel itu. Begitu hangat dan mendesir-desir didada. Wajahnya yang selalu teduh itulah yang membuat hari-hariku selalu mengahadirkan semangat-semangat baru. Aku bangga memilikinya. Dia ibuku.

“Sudah makan siang?” tanyanya.
“Sudah kok . . .” aku tersenyum seraya mengambil tangannya. Kucium penuh santun. Dia membalas dengan satu kecupan hangat dikeningku. Tak berapa lama aku sudah akan mengayuh sepedaku keluar gerbang.
“Jangan lupa doa!” soraknya. Aku kembali tersenyum. Kalimat wajib yang selalu kuikuti.
“Ya! Assalamualaikuuum!!!”
***

Aku selalu memilih area pinggir kiri parkiran. Tempat ternyaman untuk si Mitchi. Mitchi, sepeda hebat hasil tabunganku selama satu tahun setengah ketika SMA dulu. Kunamakan Mitchi karena awalnya uang tabungan itu untuk membeli kucing angora impianku. Sampai-sampai aku mempersiapkan nama Mitchi jika nanti aku jadi membelinya. Tapi setelah berperang melawan batinku yang entah mengapa menduakan mimpiku untuk membeli sepeda, jadi kunamakan juga sepedaku itu dengan nama Mitchi.

Ritual khusus yang selalu kulakukan setelah memarkir Mitchi ditengah sepeda-sepeda lainnya adalah berdiri menghadap ke selatan lalu memandang seantero parkiran dengan wajah ala Angelina Jolie dalam film favoritku Mr. and Mrs. John. Ini bukan masalah penjagaan Mitchi yang berlebihan tapi lebih kepada pengintaian sosok bernama Mr. Ranta Juanda. Kakak tingkat semester enam itu belakangan ini jarang memarkir motornya disamping parkiran sepeda. Huh! Apa dia tahu aku selalu mengintainya? Atau . . .

“Permisi . . .” Hmm . . . Aku mulai mendengar suara merdunya mengatakan ‘permisi’ untuk merangsek masuk ketelingaku. Otakku mulai dikacaukan oleh Mr. R itu ternyata. Tapi masih tak terlihat sosok jangkungnya di seantero parkiran.
“Permisiiii . . .” Haduuuhhh! Benar-benar sudah gila kepalaku ini. Masa suaranya berkumandang bak adzan subuh yang kencang membangunkan sholat di telingaku. Sepertinya aku sudah benar-benar gila. Gila! Gila! Giiiii......
“Dug!”
“Auuuw!!! Ssshhhh...” kakiku membentur ban motor. Seharusnya tidak ada yang parkir disini.
“Aduh, maaf ya . . . saya sudah bilang permisi tadi, tapi mungkin adek tidak mendengarnya . . .”
Sosok yang kucari sejak tadi ternyata meminta permisi untuk parkir di tempatku berpijak sekarang. Ya Tuhan!!!
“Owh... ya .. ya... maaf kak . . . ssa.. saya ti ttiidakh dengar taddi . . .” kataku bergetar. Wajahnya terlihat kebingungan melihat tingkahku yang aneh tersenyum setengah terkaget sambil berjalan mundur hingga kembali menabrak motor dibelakangku. Aku kembali meminta maaf. Mengatupkan kedua telapak tanganku pada motor tak bertuan dibelakang itu. Tak kupedulikan orang-orang yang lalu lalang melihatku. Sempoyongan aku berlari menuju gedung kampus.
Jantungku berdegup layaknya pompa. Kembang-kempis. Sulit dipercaya. Sosok itu berbicara padaku. Rasanya degup jantungku menguapkan bahagia hingga ke ubun-ubun.
Di kelas anak-anak menatapku heran.
“Pasti baru dapat orderan dia . . .” sorak Aray berwajah datar dari pojok kelas. Aku menggeleng penuh bahagia. Ia masih menatapku datar.
“Jangan-jangan nilai Pancasila kamu di atas aku lagi ya?” tanya Tita sambil membenarkan letak kacamatanya. Namun tebakan salah masih berujung gelengan kepalaku.
“Trus apa dong Lin?”
Aku tersenyum. Mendekat pada jendela kelas yang menghadap parkiran. Kutunjuk sosok tadi dengan telunjukku. Kompak seantero kelas mendekat memenuhi jendela kelas. Kecuali Aray yang masih duduk dengan wajah datar. Aku hanya duduk dan kembali tersenyum mengingat apa yang baru saja terjadi.
“Lin, kamu tau itu siapa?” Tanya Andi menoleh kearahku. Memaksaku untuk kembali bertanya padanya.
“Memangnya siapa?”
“Ketua BEM fakultas kita yang baru. Ya kan?” ujar Aray sambil tersenyum sinis.
Andi mengangguk. Dan aku masih tenggelam dalam lautan bunga dalam hatiku. Masih melekat tadi tatapan yang begitu dekat itu. Aku tak mempedulikan kata-kata teman konyolku itu. Keterlaluan sekali Aray mengatakan kalau bermimpi boleh, tapi jangan terlalu tinggi. Aku kesal dibuatnya.
Aku kemudian turun membawa box-ku menuju kantin. Kutinggalkan Aray yang masih mengoceh tentang mimpi. Terlepas dari kekesalan Aray tadi, kini didalam kantin aku harus ikut berjejal menunggu wajahku terlihat Uni. Nama aslinya Cut Mutia. Lebih sering dipanggil Uni, karena usia dan wajahnya yang muda dan cantik.

Meja disebelahku dipenuhi oleh kakak tingkat laki-laki. Aku tidak tahu nama mereka satu persatu. Yang aku tahu mereka semua satu kelas dengan Mr. R.
“Neng! Bawa pisang goreng ya??? Bagi dong . . .” ujarnya. Teman-temannya tertawa melihatku. Aku yang sejak tadi datang dengan wajah kesal, kini semakin kesal dengan tawa bahana kakak-kakak seniorku ini. Semua orang yang ada di kantin jadi memandangku penuh tanya. Dengan santainya aku mendekat dan tersenyum. Aku paling benci sebenarnya meladeni orang-orang seperti mereka. Aku membukakan mereka box kue-ku. Dan semua terdiam. Tawa mereka tertelan sepi yang merayap.
“O-ooh! Saya pikir tadi pisang goreng. . .” ujar kakak berambut mirip durian tajam tadi.
“Tak apa, coba saja kak. . . ini buatan saya sendiri . . . namanya donat. Dicoba saja kak . . .” ujarku sedikit memaksa. Aku menaruh box-ku diatas meja mereka.
“Lin? Kau mau titip donat hari ini?” sorak Uni tiba-tiba terdengar dari balik tumpukan mahasiswa yang juga sama menatapku penuh tanya.
“Iya Uni . . . tunggu sebentar, kakak-kakak ini ingin mencoba donatku” jawabku bernada tinggi.
“Silahkan kak . . . kebetulan saya titip donat saya disini” sambungku.
Tiba-tiba sosok jangkung tadi tanpa diduga masuk dan memakan donatku. Semua menatapnya.
“Hmmm . . . enak! Beda sama donat lainnya! Lebih lembut . . . Hebat dek! Adek yang tadi diparkiran kan? Buat sendiri?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Tak lama semua kakak-kakak senior yang ada di meja itu mengambil satu persatu donatku. Hasilnya . . .
“Iya enak!”
Aku tersenyum bangga.
“Besok pesan dua box ya dek!” ujar Mr. R. Aku kembali tersenyum riang penuh bahagia.

***

Hari ini aku datang lebih pagi. Ini untuk mengantisipasi keterlambatanku membawakan orderan Mr. R. Semoga dua box donat yang kubuat susah payah dengan cinta itu benar-benar mendatangkan angin cinta dihatinya. Aku tersenyum sendiri sambil memarkir Mitchi. Ketika aku akan keluar dari gerbang parkiran, tiba-tiba saja Mr. R. mengklakson motornya untuk menyapaku.
“Ini kak . . .” kuserahkan dua box donatku padanya. Dan tak lupa bayaran setimpal dengan jerih payahku tadi. Tapi hal lain malah terjadi sebaliknya hari ini.
Setibanya dikelas, tak lama keramaian kelas sebelah membuat anak-anak kelasku berlarian mencari tahu. Tak lama mereka kembali dengan wajah sendu.
“Ada apa sih di sebelah Ta?” tanyaku pada Tita. Ia hanya terdiam.
Aku menatap Andi mencoba bertanya. Tapi ia malah berjalan menjauh. Aku semakin dibuat penasaran.
“Kalian ini ditanya kok malah diam-diam begitu sih?” kataku kesal.
“Itu karena disebelah, Ketua BEM sedang menembak Rani. Anak kelas 2-A.”
Aku terperanjat. Ketua BEM???. Mr. R.??? Kak Ranta???
Aku berlarian menuju kelas sebelah. Dan walhasil gadis berparas cantik bernama Rani sedang saling menyuapi donat buatanku bersama kak Ranta. Lebur rasanya riuh itu bersama jerit hatiku. Ada yang menetes dingin di ujung pelupuk mataku.
Kak Ranta . . . Aku mencintaimu . . . (ilustrasi:eksklusif)

Cerpen Karya : Alif Sufi (FKIP Mataram)

About ""

Beemagz adalah majalah lokal muda Lombok. Kreatif, edukatif, entertaining, local taste, dan pastinya youngster bangett!! Enjoy our online version!

Post a Comment

 
Copyright © 2013 Beemagz Youngster Magazine | Majalah Remaja
Design by FBTemplates | BTT